Pembentukan Qizilbash adalah

bentuk kemajuan dalam kemiliteran Dinasti Syafawiyah, dengan rekruitment aktif, dan ditambah dengan budak dari Georgia, Armenia, dan Turki, pasukan ini mampu menjadi sebuah pasukan militer yang siap digerakkan membela kepercayaan dan negara. Terbukti dengan penaklukan Persia secara keseluruhan yang sukses berkat pasukan ini.

Untuk membayar gaji tentara, Syah Abbas menggunakan tradisi Islam dan praktik iran tentang pemberian tanah ithqa’ atau tuyul. Upaya ini adalah untuk menciptakan keseimbangan antara berbagai kapasitas pemerintahan pusat, agar dapat menguasai sumber pendapatan secara langsung dan kebutuhan untuk menjaga ifrastruktur militer.

4. Bidang pembangunan fisik dan seni.

Perkembangan pembangunan yang terlihat jelas adalah pembangunan ibu kota kerajaan, Isfahan. Syafawiyah membangun kota tersebut mengelilingi Maydani-Syah, yakni alun-alun luas yang berfungsi sebagai pasar, tempat perayaan, dan lapangan bermain. Dikelilingi oleh sejumlah toko bertingkat dua, dan sejumlah gedung utama disetiap sisinya. Bagian timur terdapat Masjid Syaikh Lutfallah, yang dibangun tahun 1603-1618, masjid ini adalah tempat peribadatan pribadi Syah. Disisi bagian selatan, terdapat Masjid kerajaan yang dibangun tahun 1611-1629. Sisi bagian barat berdiri istana Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan. Bagian utara dari maydani terdapat bagungan monumental yang menjadi simbol bagi gerbang menuju bazar kerajaan dan sejumlah pertokoan, tempat pemandian, caravansaries, masjid dan sejumlah perguruan. Dari maydani terdapat jalan raya chahar bagh sepanjang 2,5 mil menuju istana musim panas, yaitu tempat sang penguasa memberi saran pada duta besar dan mengadakan upacara resmi kengaraan. Pada sisi lain jalan ini terdapat sejumlah pertamanan luas sebagai tempat tinggal harem Syah, tempat tinggal pegawai istana dan tempat tinggal duta asing.
Istana Ali Qapu merupakan tempat tinggal amir Dinasti, dengan desain dihiasi keramik biru kehijauan dan pernik keemasan, prasasti serta desain geometri dan flora tumbuhan, berdiri megah sekitar 48 meter dengan tujuh lantai yang masing-masing dihubungkan oleh tangga spiral, dengan lantai enam menjadi ruang yang musik yang mampu membuat takjub.
Masjid Syaikh Lutfallah, bangunan ini terletak di bagian timur, masjid pribadi Syah ini memiliki desain arsitektur menakjubkan pada zamannya. Arsitek dari masjid ini adalah Muhammad Riza, namanya tercatat pada prasasti yang menerangkan tentang masjid ini. Disekitar mihrab masjid ini, terukir dua belas Imam Syi’ah, terdapat juga berbagai kaligrafi ayat, hadits, dan do’a para Imam dari Dinasti Syafawiyah, desain kaligrafi bangunan ini dan bangunan sebelumnya ditulis oleh Ali Reza al-Abbasi, salah seorang seniman terkenal saat itu.
Masjid Syah atau Masjed-e Shah disebelah selatan. Masjid ini adalah perlambangan kekuasaan Syah atau Raja. Kemegahan utama masjid ini adalah karena keindahan tujuh warna ubin bermosaik dan prasasti kaligrafi, ditambah pula dengan kemegahan empat menara setinggi 160 kaki, sebagian besar masjid ini dibangun menggunakan bahan keramik dan batu piruz, kemegahannya diperlengkap dengan sebuah kolam besar ditengah pelataran masjid. Perancang masjid ini adalah Ali Esfahani dengan menggabungkan gaya arsitektur bangsa Seljuk, Sasanid, dan Indo-European. Dibeberapa bagian masjid terdapat kubah-kubah kecil yang juga khas bangunan Iran yang disebut kiosk, kubah kecil ini bagi arkeolog dan pengamat arsitektur dianggap sebagai karya kubah dengan ubin berwarna yang paling brilian karena motif dan komposisi warnanya. Bangunan ini menjadi bukti kecanggihan perkembangan teknologi arsitektur Islam pada abad pertengahan, bangunan ini didesain tahan gempa dengan desain tiang yang dibuat sedemikian rupa hingga bangunan ini mampu bertahan hingga saat ini.

Sumber: https://vds.co.id/