Studi Kasus Pemilihan Lokasi Pabrik Gula Sugar Group Companies

Studi Kasus Pemilihan Lokasi Pabrik Gula Sugar Group Companies

Pada periode 1991-2001, industri gula Indonesia menghadapi    berbagai masalah yang signifikan. Salah satu penyebab kemunduran industri gula nasional adalah inefisiensi di tingkat usahatani dan di tingkat Pabrik Gula (PG). Tingkat produktivitas tebu/ha yang dicapai oleh perkebunan rakyat yang pangsa produksinya sekitar 68% adalah sekitar 4-5 Ton gula/ha, jauh di bawah potensi produksi sekitar 13 Ton gula/ha (PT Perkebunan Nusantara XI, 2000).

Di samping masalah teknik budidaya yang belum optimal, salah satu penyebab rendahnya efisiensi yang tercermin dari rendahnya produktivitas dan rendemen adalah belum adanya keterpaduan sistem produksi antara petani yang memproduksi tebu dengan PG. Keterpaduan jadwal tanam dan tebang menentukan umur tebu saat dipanen yang selanjutnya mempengaruhi produktivitas, rendemen, dan efisiensi di Pabrik Gula. Hal ini tercermin dari belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan Pabrik Gula (Adisasmito, 1998; Woeryanto 2000; dan Murdiyatmo, 2000). Karena keterbatasan kapasitas pabrik dan pada masa puncak produksi, masa tebang optimum sering menjadi rebutan antara pihak Pabrik Gula dengan petani dan antar petani. Di sisi lain, belum terpadunya jadwal tanam dan tebang juga menyebabkan inefisiensi di tingkat pabrik (17 dari 50 Pabrik Gula) karena tidak mencapai kapasitas minimum atau minimum hari giling (Arifin, 2000). Hal ini terjadi karena kelemahan perencanaan, baik ketika masa penanaman maupun penebangan (Adisasmito, 1998).

Situasi ini menimbulkan saling curiga antara petani dengan Pabrik Gula, khususnya yang berkaitan dengan rendemen. Masalah lain penyebab kemunduran industri gula Indonesia adalah bahwa setiap perencanaan seperti perencanaan tanam dan tebang, petani tidak dilibatkan secara optimal (Soentoro dan Sudaryanto, 1996; Suprihatini, 1998; Adisasmito, 1998; Woeryanto, 2000). Pendekatan yang kurang partisipatif tersebut menyebabkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah tidak mempunyai kekuatan yang mengikat, khususnya bagi petani. Formulasi Model Penentuan jadwal tanam dan tebang, aspirasi dari pihak-pihak yang berkepentingan seyogyanya diberi ruang yang lebih leluasa. Hal ini dapat diwujudkan bila kerangka analisis yang digunakan secara eksplisit memasukan proses negosiasi/partisipasi dalam penentuan keputusan tersebut (Contreras, 1985; Bare dan Mendoza, 1980).

Setelah perusahaan berhasil menciptakan barang atau jasa yang dibutuhkan dan menetapkan harga yang layak, tahap berikutnya menentukan metode penyampaian produk/jasa ke pasar melalui rute-rute yang efektif hingga tiba pada tempat yang tepat, dengan harapan produk/jasa tersebut berada ditengah-tengah kebutuhan dan keinginan konsumen yang haus akan produk/jasa tersebut.

Yang tidak boleh diabaikan dalam langkah kegiatan memperlancar arus barang/jasa adalah memilih saluran distribusi (Channel of Distribution).Masalah pemilihan saluran distribusi adalah masalah yang berpengaruh bagi marketing, karena kesalahan dalam memilih dapat menghambat bahkan memacetkan usaha penyaluran produk/jasa dari produsen ke konsumen.Distributor-distributor atau penyalur ini bekerja aktif untuk mengusahakan perpindahan bukan hanya secara fisik tapi dalam arti agar jasa-jasa tersebut dapat diterima oleh konsumen. Dalam memilih saluran distribusi ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut:

  1. Sifat pasar dan lokasi pembeli

  2. Lembaga-lembaga pemasaran terutama pedagang pedagang perantara.
  3. Pengendalian persediaan, yaitu menetapkan tingkat persediaan yang ekonomis.
  4. Jaringan pengankutan.

 

Sumber :

https://mitranet.co.id/microsoft-paint-akhirnya-dipensiunkan-setelah-32-tahun/