Ruang Kelas dan Pemeliharaan Ketertiban serta Disiplin

 Ruang Kelas dan Pemeliharaan Ketertiban serta Disiplin

 Ruang Kelas dan Pemeliharaan Ketertiban serta Disiplin

Pemeliharaan ketertiban dan disiplin merupakan dua konsep yang berdekatan. Pemeliharaan ketertiban berkaitan dengan kemampuan diri untuk tertib sesuai dengan konstruksi sosial dan hukum yang ada. Adapun disiplin merupakan kemapuan diri untuk taat, patuh, dan berkomitmen sesuai apa yang dipandang baik dan benar dalam kontruksi sosial, budaya, dan hukum. Dapat dipahami bahwa orang yang memilki disiplin akan melakukan pemeliharaan ketertiban. Murid yang disiplin, maka akan memelihara ketertiban, termasuk ketertiban ruang kelas.

Ketika ruang ruang kelas tidak tertib dan disiplin, maka salah satu akar dari persoalan ini mungkin dapat ditelusuri bagaimana guru mensosialisasikan ketaatan terhadap aturan perundangan yang ada dan komitmen terhadap rencana dan tujuan yang telah dirancang. Dari sisi guru ada beberapa hal yang menyebabkan sosialisasi tidak seperti yang diharapkan, yakni kegagalan memainkan peran guru, memahami konsep disiplin, atau ketiadaan dukungan kelembagaan.

Kegagalan memainkan peran guru yang diharapkan, seperti ketidakmampuan dalam mensosialisasikan nilai-nilai dan norma, dapat dialami oleh guru. Ketidakmampuan ini  dapat disebabkan karena persiapan peran sebagai guru yang tidak memadai.

Kegagalan memahami konsep disiplin tidak hanya dialami oleh guru sebagai pendidik, tetapi juga kebanyakan anggota masyarakat Indonesia. Mereka sering mengidentikkan konsep disiplin dengan kemampuan baris-berbaris maupun ketegasan seperti dalam komunitas militer. Konsep disiplin dalam komunitas militer dan non militer sama-sama memiliki esensi yang berkaitan dengan taat akan aturan dan komit terhadap rencana dan tujuan yang ada. Namun, perbedaannya ada dalam hal metode, penghargaan, dan hukuman.

Dalam komunitas militer, disiplin disosialisasikan dalam institusi total, yakni suatu tempat dimana sejumlah individu menghabiskan waktu yang cukup lama terlibat dan berperan dalam kehidupan yang diatur secara formal dan terpisah dari masyarakat luas, dalam hal ini kamp pelatihan militer.[5] Sementara dalam komunitas non militer, disiplin dikonstruksikan dalam ruang sosial yang ditandai oleh kesetaraan, demokrasi, anti kekerasan, dan persahabatan yang merupakan nilai dan norma yang dijunjung tinggi. Keteladanan, harga diri, kesadaran, dan motivasi merupakan metode-metode yang penting dalam penegakan kedisiplinan dalam komunitas non militer, yang selama ini diabaikan, termasuk oleh guru.

Guru tidak bisa mensosialisasikan norma bisa jadi disebabkan ketiadaan dukungan lembaga. Sekolah dalam kenyataanya tidak selalu meilikiaturan tentang kedisiplinan. Kalaupun ada, hanya beberapa pernyataan tentang boleh dan tidaknya sesuatu yang dilakukan oleh siswa selama berada disekolah, sementara sanksi dan hukuman terhadap sesuatu yang dilanggar bersifat tidak tertulis. Jadi, kesaan yang ditimbulkan adalah hukuman tergantung pada siapa yang memutuskannya tanpa standar yang dapat menjadi rujukan.

Recent Posts