Aliran Atau Pemikiran Islam Kontemporer

Aliran Atau Pemikiran Islam Kontemporer

Aliran Atau Pemikiran Islam Kontemporer

  1. Metode Berfikir Kaum Salaf

Di dalam memahami ‘aqidah Islam baik dengan berdialog dan berdiskusi banyak ragam metode yang dipakai oleh semua aliran ‘aqidah di dalam Islam, diantaranya aliran Mu’tazillah yang menempuh dengan metode falsafi yang ditiru dari logika Yunani. Dalam penggunaan metode ini mereka juga didampingi oleh Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

Kaum salaf datang menentang penggunaan metode tersebut dan menginginkan agar pengkajian ‘aqidah kembali pada prinsip-prinsip yang dipegang oleh para sahabat dan tabi’in. Mereka mengambil prinsip-prinsip ‘aqidah dan dalil-dalil yang mendasarinya al-Qur’an dan Sunnah, serta melarang ulama untuk mempertanyakan dalil-dalil al-Qur’an.

Ibnu Taimiyah yang merumuskan metode pemahaman ini membagi ulama dalma memahami ‘aqidah Islam ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Para Filosof. Mereka mengatakan bahwa al-Qur’an datang dengan metode instruksional dan premis-premis yang dapat diterima masyarakat. Mereka menegaskan bahwa diri mereka adalah lelompok pakar di bidang argumentasi da keyakinan, sedang metode ‘aqidah adalah argumentasi dan keyakinan.
  2. Para pakar ilmu Kalam, yaitu Mu’tazilah. Mereka mengemukan berbagai kesimpulan yang rasional sebelum mengadakan penalaran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Mereka berpegang pada dua argumentasi tetapi mendahulukan rasional daripada al-Qur’an. mereka menta’wilkannya sesuai dengan tuntutan akal, sekalipun mereka tidak keluar dari ‘aqidah al-Qur’an.
  3. Ulama yang mengadakan penalaran terhadap ‘aqidah yang terdapat di dalam al-Qur’an untuk diimani, dan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya untuk digunakan. Dalil-dalil itu digunakan bukan karena merupakan dalil yang memberikan petunjuk dan bimbingan yang mengarahkan akal untuk berbagai premis disekitarnya, melainkan karena merupakan sejumlah ayat formatif yang isinya wajib diimani, tanpa menjadikannnya sebagai premis bagi istinbath ‘aqli. Ibnu Taimiyah meletakkan Maturidiyah pada kategori ini, karena Maturidiyah mempergunakan akal untuk memahami ‘aqidah yang terdapat dalam al-Qur’an.
  4. Kelompok yang beriman kepada al-Qur’an, baik ‘aqidah maupun dalilnya, tetapi mempergunakan dalil rasional di samping dalil al-Qur’an itu. Ibnu Taimiyah memasukkan Asy’ariyyah ke dala kategori ini.

Setelah pembagian ini Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa metode Salaf bukanlah salah satu dari empat kategori di atas, karena ‘aqidah dan dalilnya hanya dapat diambil dari nash. Mereka itulah kelompok yang tidak percaya pada akal, sebab akal dapat menyesatkan. Mereka hanya percaya pada nash dan dalil-dalil yang diisyaratkan dari nash, sebab ia merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi. Mereka juga menegaskan bahwa berbagai pola pemikiran rasional itu merupakan hal yang baru dalam Islam yang tidak pernah dikenal secara pasti di kalangan para sahabat dan tabi’in. bila kita mengatakan bahwa metode rasional merupakan kebutuhan primer untuk memahami ‘aqidah Islam, maka konsekuensinya kaum Salaf itu tidak dapat memahami ‘aqidah sesuai dengan yang diharapakan dan tidak dapat menjangkau dalil-dalil nash secara optimal.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Salaf berpendapat bahwa tidak ada jalan untuk memahami ‘aqidah dan hukum-hukum dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, baik dari segi i’tiqad maupun istidal-nya kecuali dari al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskannnya. Apa yang ditegaskan al-Qur’an dan diterangkan oleh Sunnah harus diterima, tidak boleh tidak boleh ditolak guna menghilangkan keragu-raguan. Akal manusia tidak mempunyai otoritas dalam menta’wilkan al-Qur’an, meng-interpretasikan-nya, atau men-takhrij-nya, kecuali sekedar yang ditunjukkan oleh berbagai susunan kalimat al-Qur’an dan yang terkandung dalam berbagai hadis. Bila sesudah itu akal mempunyai otoritas, maka hal itu hanya berkenaan dengan pembenaran dan kesadaran, menegaskan kedekatan hal yang manqul (tersebut dalam dalil naqli) dengan yang rasional, dan tidak ada pertentangan antara keduanya. Akal hanya menjadi bukti, bukan pemutus. Ia menjadi penegas dan penguat, bukan pembatal atau penolak. Ia menjadi penjelas terhadap dalil-dalil yang terkandung dalam al-Qur’an.

Inilah metode Salaf, yaitu menempatkan akal berjalan di belakang dalil naqli, mendukung dan menguatkannya. Akal tidak berdiri sendiri untuk dipergunakan menjadi dalil, tetapi ia mendekatkan makna-makna nash.

  1. Gerakan Islam Moderat

Saat ini,  Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Islam masuk ke wilayah Nusantara tergolong paling akhir dibandingkan dengan kawasan lainnya seperti Persia, Asia Tengah dan Eropa. Paham keagamaan yang diajarkan dan kemudian dianut oleh mayoritas penduduk adalah ahlus sunnah waljamaah, sebuah paham moderat. Secara harfiyah, ahlu sunnah wal jama’ah adalah penganut sunnah, tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kesepakatan para ulama. Watak moderasi (washatiyah) yang dimiliki oleh faham ini baik dalam sistem keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik akhlak/tasawuf sesuai dengan corak kebudayaan masyarakat Indonesia.

Dinamika perkembangan ahlu sunnah wal jama’ah (Aswaja), awalnya dinilai akomodatif terhadap tradisi lama (local tradition), kemudian berkembang mengikuti trend pemurnian (puritanisme) sehingga corak Islam terlihat semakin murni dari unsur-unsur lokal. Pemurnian ajaran ASWAJA dari anasir lokal dan tradisi lama dimulai dengan apa yang disebut organisasi dan gerakan modernis, yang tetap bersandar pada kaidah berfikir madzhab ahlu sunnah wal jamaah. Kelangsungan dan perubahan pemahaman dan perubahan paham Aswaja berjalan damai, kecuali dalam beberapa kasus seperti pertentangan antara “kaum tua” versus “kaum muda” di awal abad ke XX dan radikalisme serta terorisme di awal abad XXI.

Sejarah Indonesia dimulai sejaknya tumbuhnya kesadaran sebagai bangsa terjajah dan berkeinginan untuk merdeka, bebas dari dominasi bangsa lain. Kesadaran tersebut dimulai sejak kehadiran bangsa-bangsa Barat pada abad 16 yang kemudian mendapat perlawaan dari Kesultanan Samodra Pasai dan Demak di Malaka pada tahun 1511. Perlawanan terhadap Barat terus berlangsung sampai tercapainya kemerdekaan. Sejumlah tokoh perlawanan muncul dari Aceh sampai Sulawesi. Sultan Hasanudin (Sulawesi), Sultan Agung (Mataram), Sultan Ageng Tirtoyoso (Banten), Sultan Badarudin (Palembang), Pangeran Diponegoro (Jawa), Imam Bonjol (Sumatera)  Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Teuku Cik Di Tiro (Aceh). Penderitaan sebagai bangsa terjajah inilah yang melahirkan semangat nasonalisme bagi bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan mengalami perubahan strategi, dari perlawanan fisik ke politik. Lagi-lagi umat Islam menjadi pelopornya, peraang digantikan dengan gerakan social, ekonomi dan politik. Dimulai dengan gerakan Sarikat Dagang Islam pada tahun 1905 yang kemudian berubah menjadi gerakan politik, Syarikat Islam (1912).

Gerakan social pendidikan dimulai oleh  Muhammadiyah (1912), dan pada tahun 1926 lahir Nahdhatul Ulama. Organisasi Islam lainnya juga bergerak dalam bidang social dan pendidikan tersebar di berbagai wilayah. Mathla’ul Anwar (Banten,1916), Perikatan Umat Islam (PUI) sebelumnya bernama Persyarikatan Oelama pada tahun 1916. Persatuan Islam (Bandung, 1923), Persatuan Tarbiyah Islamiyah ( Sumatera Barat, 1930), Al Khairat (Palu, Sulawesi, 1930) dan Al Jamaatul Wasliyah  ( Medan, 1930) dan Nahdhatul Wathan (Nusa Tenggara Barat, 1937). Organisasi Islam yang berdiri pada era colonial tersebut sampai sekarang masih berkembang adalah penganut paham washatiyah (moderat) atau yang disebut Ahus Sunnah wal Jama’ah. Organisasi politik satu-satunya, Syarikat Islam memiliki corak radikal, terutama setelah diinfiltrasi oleh kelompok sosialis democrat yang kemudian berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia. Setelah diterapkan disiplin partai, kaum komunis dikeluarkan dari Syarikat Islam, gerakan politik umat kembali ke jalan moderat.

  1. Islam  Liberal

Islam liberal mempunyai makna kebebasan Tnpa batas,atau bahkan di setrakan dengan sikap permisif (ibahiyah),yaitu sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti.Dengan cara pandang seperti itu, Islam liberal di pandang sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga.

Dalam Islam persoalan batasan antara mana yang boleh dan yang tidak boleh menempati kedudukan yang sentral.Setiap islam selalu peduli dengan apa yang dia kerjakan, apakah perbuatan itu boleh atau tidak.Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian yang sangat kaya dan meninggalkan ribuan literature yang canggih yaitu bidang Fikih.Setiap pembicaraan tentang hukum selalu saja merujuk kepada Fikih.Ketika muncul diskusi yang ramai tentang hukum islam,maka Fikih menjadi nfokus perhatian,sebab dalam Fikih lah sebagian besar hukum di rumuskan.

Dalam diskusi – diskusi itu,tekanan di berikan kepada “kewajiban”,yaitu kewajiban muslim terhadap Allah, sesame manusia, dan dirinya sendiri.

Islam liberal muncul untuk menyeimbankan neraca antara bahasa kewajiban dn kebebasan / hak ini.Tujuan pokok dari agama adalah mengankat martabat kemanusiaan.Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan.Suatu kesalahan besar anggapan bahwa tugas pkok

Manuia adalah menyembah Tuhan.Pandangan ini bersumber dari pemahan yang salah atas ayat “wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liyak’budun”.Dan tidak Aku ciptakan manusia kececuali untuk menyembah-Ku.ayat ini jika di pahami dalam keranka popoler yang cendrung anti-humanistik, yang tidak lain agama itu dalah penundukan manusia.manusia seolah-olah ancaman bagi tuhan  sehingga harus di tundukan.Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno.Pandangan popular yang berkembang di kalangan umat islam mengenai ayat tersebut cendrung kepada suatu citra manusia sebagaui Prometheus.

Prometheus versi islam adalah Prometheus yang kalah oleh kehendak TuhanIni jelas suatu citraan yang tidak sesuai dengan semangat Islam.

Penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan “I-it”, “aku dan  dia”.Allah dalam keranka penyembahan semacam itu, telah “di bendakan”. Allah yang di sembah adalah Allah yang di berhalakan, yang di fiksasi dalam gambaran yang tetap seperti “Idol”.Kata libebral dalam “Islam Liberal” tidak ada sankut pautnya dengan ‘kebebasan tanpa batas”


Baca Juga :