Refleksi Atas Pemikiran Baudrillard Tentang Hiperrealitas

Refleksi Atas Pemikiran Baudrillard Tentang Hiperrealitas

Refleksi Atas Pemikiran Baudrillard Tentang Hiperrealitas

Refleksi Atas Pemikiran Baudrillard Tentang Hiperrealitas

Saya ingin merefleksikan pemikiran Baudrillard tentang gagasannya mengenai kondisi Hiperrealitas yang menurutnya telah melekat dalam kehidupan masyrakat saat ini.  Dewasa ini bukan hanya masyarakat di dunia barat namun wabah postmodernisme sudah memasuki kehidupan masyarakat Indonesia.  Gambaran kehidupan postmodernisme dapat dilihat dengan adanya ciri-ciri yang melekat yaitu salah satunya adalah dengan adanya suatu kondisi yang dibentuk melebihi realitas atau kenyataan sesungguhnya yang biasa disebut sebagai hiperrealitas.

Hiperrealitas terdapat dalam kehidupan saat ini khususnya di masyarakat Indonesia dilihat dengan adanya Iklan-iklan yang dimuat oleh media massa lebih khususnya yaitu oleh televisi.  Televisi adalah salah satu media yang ampuh dalam menyebarkan ideologi bagi masyarakat.  Sering sekali kita dapati adanya iklan yang selalu berlebihan dalam pengenalan sebuah produk.  Contohnya adalah iklan parfum AXE parfum yang diperuntukkan bagi kaum pria, Axe sudah lama menjadi pelaku hiperrealitas.  Coba perhatikan dalam setiap iklan parfum ini, ketika ada seorang pria yang menggunakan parfum Axe tiba-tiba ketika ia berjalan di tempat umum maka setiap wanita yang mencium aroma Axe akan terasa seperti terhipnotis dan tergila-gila kepada pria itu dan mereka menjadi agresif menghampiri pria itu sambil seperti penuh nafsu memiliki sang pria.  Padahal jika dibenturkan ke dalam realitas sebenarnya sangatlah mustahil hal demikian dapat terjadi.  Selain itu juga, ada lagi iklan yang saya jadikan contoh refleksi ini yaitu iklan Lip Ice sebuah iklan yang memperkenalkan produk kosmetik wanita yaitu lipstik yang diperuntukkan bagi remaja putri.  Kronologis iklan Lip Ice ini adalah ketika ada seorang remaja putri yang menggunakan Lip Ice untuk pewarna bibirnya kemudian ia berjalan di trotoar sambil tersenyum dengan bibirnya yang bewarna merah muda akibat polesan Lip Ice lalu reaksi dari para lelaki yang melihat remaja putri itu langsung terpesona dan berbondong-bondong untuk mendekat dan berkenalan dengannya.

Terlepas dari contoh iklan televisi, saya ingin memberikan gambaran tentang hiperrealitas dalam bentuk sinetron sebuah drama kehidupan nyata.  Hampir semua sinetron Indonesia termasuk ke dalam bentuk hiperrealitas yaitu dapat dilihat ketika sebuah sinetron itu biasa menampilkan tokoh yang berperan antagonis dan protagonis.  Masalahnya disini adalah ketika peran antagonis atau peran manusia yang jahat digambarkan sangat berlebihan berbeda dengan kenyataan.  Ada seorang perempuan yang ditokohkan sebagai seorang yang jahat dan selalu berusaha mencelakakan musuhnya. Dan perempuan yang ditokohkan sebagai seorang yang baik itu pasti dicirikan dengan sikap yang mengalah terus dan melankolis berilinang air mata dan berdoa sehingga ia terus dianiaya oleh tokoh jahat namun ia pasrah dan pada akhirnya dialah yang menjadi pemenang dari cerita tersebut.  Sungguh tampilan yang tidak dapat merepresentasikan realita dan  inilah yang dapat dikategorikan sebagai simulacra dalam bentuk hiperrealitas.

Baca Juga :