Baudrillard

Baudrillard

Baudrillard

Baudrillard

Jean Badrillard lahir pada tahun 1929 di Reims dan meninggal pada usia 78 thun pada tanggal 6 Maret 2007 di Perancis.  Ia dikenal sebagai  seorang Sosiolog, teoritisi postmodernis, penulis sains fiksi, pujangga.[1] Hal ini karena pemikiran Baudrillard yang sangat luas dan sulit dikelompokkan kedalam satu disiplin ilmu.  Tulisan-tulisannya memiliki gaya yang khas dan orisinal deklaratif, hiperbolik, aforistik, skeptis, fatalis, nihilis, namun tajam dan cerdas. selama menjadi mahasiswa Baudrillard aktif dalam organisasi mahasiswa sosialis dan mengaku sebagai pengikut Marxisme. Pemikiran Baudrillard mengalami perkembangan ketika mulai terpengaruh pemikiran Barthes dan tentu saja pemikiran Karl Marx. Dan nama Jean Baudrillard mulai dikenal luas dalam diskursus filsafat kontemporer ketika karyanya “the Mirror of Production” (1975) diterbitkan.

A. Masyarakat Simulasi Dan Gagasan Hiperrealitas

Baudrillard mengatakan bahwa saat ini sudah memasuki kehidupan postmodern bukan lagi era modernitas yang berdiri.  Dan ini ditandai dengan adanya konsep mengenai ”masyarakat simulasi”.  Proses simulasi ini mengarah pada simulacra. Simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung. Merujuk Baudrillard, terdapat tiga tingkatan simulacra (Baudrillard, 1983:54-56). Pertama, simulacra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi  dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. Kedua, simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Pada tingkatan ini, telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. Ketiga, simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi.

Dalam wacana simulasi, manusia mendiami ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis. Dunia-dunia buatan semacam Disneyland, Universal Studio, China Town, Las Vegas atau Beverlly Hills, yang menjadi model realitas-semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Lewat televisi,film dan iklan, dunia simulasi tampil sempurna.[2] Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi  semuanya lebur menjadi satu dalam silang-sengkarut tanda (Baudrillard, 1987: 33).Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu, yang semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya refernsi, kecuali simulacra itu sendiri.

Proses simulasi inilah yang mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas’, di mana tidak ada lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan. Baudrillard memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut: (1) [citraan] adalah refleksi dasar realitas, (2) Ia menutupi dan menyelewengkan dasar realitas, (3) Ia menutupi ketidakadaan realitas, dan (4) Ia melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun; ia adalah kemurnian simulakrum itu sendiri (Ritzer, 2003).

Sumber : https://multi-part.co.id/the-arcana-apk/