Isu Paradigmatik

Isu Paradigmatik

Isu Paradigmatik

Isu Paradigmatik

Pembahasan mereformasi struktur dan format RPJMN pada akhirnya akan ditentukan juga oleh isu-isu yang bersifat paradigmatis. Isu-isu paradigmatik yang perlu dipilih adalah:

(1) Regional vs Sektoral

Paradigma pembangunan regional vs paradigma pembangunan sektoral. Keduanya dapat dipakai beriringan, asalkan salah satu menjadi titik-pandangnya. Jika kita memilih regional sebagai titik pandangnya, maka kita dapat mengatakan bahwa kedalaman substansi dan indikator untuk setiap provinsi akan terdiri dari beberapa sasaran prioritas, sasaran program, dan sasaran kegiatan pokok berserta masing-masing indikatornya.

(2) Lintassektor vs Monosektor

Paradigma pembangunan lintassektor vs paradigma pembangunan monosektor. Paradigma pembangunan monosektor dapat dikatakan juga sebagai pendekatan program. Keduanya sebenarnya dapat dipakai beriringan, namun pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan keduanya secara beriringan ternyata menghilangkan watak akuntabilitas yang harus diemban oleh perencana/penganggar dan pelaksananya. Ketika ditanya siapa yang bertanggung-jawab atas pencapaian hasil pembangunan lintassektor maka tidak ada yang berani bertanggung-jawab dengan alasan pelaksanaannya bukan hanya satu lembaga. Sudah tiba saatnya sekarang ini, sesuai dengan prinsip performance based budgeting, paradigma yang dipilih adalah paradigma program, dimana lembaga (misalnya setingkat eselon I) bertanggung jawab atas satu program yang akan dicapai oleh beberapa kegiatan.

IV. Aplikasi Perencanaan, Penganggaran, dan Evaluasi Pembangunan

Salah satu penyempurnaan yang harus dilakukan adalah menciptakan sebuah aplikasi mengintegrasikan proses perencanaan, penganggaran, dan evaluasi pembangunan. Dalam aplikasi tersebut terdapat format (1) menyusun perencanaan dan penganggaran, (2) menentukan variabel dan indicator; (3) memilih proyeksi pencapaian; (4) memantau pencapaian tahunannya dengan patokan baseline yang direncanakan terhadap proyeksinya; (5) mengevaluasi pencapaian hasilnya sesuai indikator program dan indikator kegiatan yang telah ditentukan.

V. Penutup

Kelak, ketika RPJMN 2010-2014 telah disusun, kita akan memliki RPJMN yang akuntabel dan mempunyai indikator pencapaian yang terukur dan sistematis. Para penanggung-jawab program dan kegiatan akan dikenai pertanggungjawabannya. Implikasi yang muncul dari hal ini adalah bahwa kita tidak boleh ceroboh dalam menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran pembangunan. Implikasi berikutnya adalah bahwa birokrasi akan lebih dihormati karena hanya manusia yang cerdas dan berani bertanggung-jawablah yang mempunyai kapasitas menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran pembangunan.

Sumber : https://obatwasirambeien.id/tips-memilih-jasa-penulisan-artikel/