Masjid di Eropa Yang Dahulunya Gereja

Seiring meningkatnya kuantitas Muslim di Eropa dan Amerika akibat berasal dari arus Urbanisasi, angka kelahiran muslim dan bertambahnya kuantitas mu’alaf di negara-negara tersebut dan juga meningkatnya kebutuhan bakal fasilitas Ibadah Muslim, hal ini telah mengundang fenomena baru bersama dengan beralih fungsinya Gereja-gereja jadi Masjid dan daerah ibadah berasal dari agama lain. Berikut ini sebagian cuplikan artikel yang berhasil kami himpun bakal fenomena ini.

MASJID AN NASHR, MASJID TERBESAR DI BELANDA

Kaum muslimin di Belanda mengusahakan keras untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Routerdam di dalam penampilan barunya sesudah diumumkan ada sebuah proyek besar untuk renovasi bangunan yang asalnya adalah sebuah gereja yang berhasil dibeli oleh minoritas muslim berasal dari pengurus gereja.

Panitia pembaharuan masjid yang beralamat di Malvert 9054,
Nijmegen, 6538 CD, BELANDA itu berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, dan juga mendambakan memberikan bangunan-bangunan lain untuk penyempurnaan faedah masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai daerah peribadatan.
Ali at-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid an-Nashr mengatakan bahwa masjid bakal mengalami pembaharuan di dalam penampilan dan pelebarannya sesudah sebagian pihak khusus pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid dikarenakan rapuh dan hampir runtuh.At-Tasyi menambahkan: “25 tahun yang lantas kami mampu belanja bangunan tersebut seharga setengah juta Euro, dan bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah gereja, lantas kaum muslimin membelinya pada tahun 1982.”
Demikianlah telah diumumkan bahwa sejumlah LSM datang ke masjid tersebut perihal persiapannya untuk saling membantu dan bekerja serupa bersama dengan yayasan masjid di dalam renovasi dan perluasan yang keduanya bakal memakan biaya lebih berasal dari sepuluh juta Euro.

CATEDRAL MOSQUE, MASJID AGUNG DI MARSEILLE – PRANCIS

Hampir sepanjang 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghiasi panorama Kota Marseille, Prancis. Gereja ini terdapat di titik tertinggi kota tersebut yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi panorama itu bakal berubah. Di sana bakal berdiri sebuah masjid agung.

Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque’. Arsitek yang merancang bangunan masjid itu mengatakan, bahwa mereka meminjam gagasan Taj Mahal. Kelak, masjid ini bakal ditambah bersama dengan kubah emas besar. Menaranya bakal menjulang mencapai 24 meter.

Ruangan salat dirancang memadai luas dan diperkirakan mampu menampung lebih kurang 7.000 jamaah dan bakal jadi masjid terbesar di Prancis.

“Ini merupakan proyek yang lama tertunda,” kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP kepada kantor berita BBC.

Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun daerah ibadah yang keluar banyak orang. Daripada memaksa Muslim jadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar bakal membantu menghambat ekstremisme.

Moraine menyatakan, masjid yang gampang dibuka termasuk bakal menghambat timbulnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan-pandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran bersama dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.

Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis dikarenakan terlalu padat. Namun, Makhete Cisse berasal dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. “Ini posisi prima dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar,” katanya.

Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini membawa luas lebih berasal dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang ditambah bersama dengan sebuah perpustakaan dan restoran. “Kami sesungguhnya butuh daerah yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh berasal dari pusat bisnis.”

Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini mengakibatkan sejumlah kontroversi dikarenakan sebagian besar berasal dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh berasal dari luar negeri. Di antaranya, berasal berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.

Sejumlah politisi lokal berasal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini serupa saja bersama dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. “Kami tak mengundang Islam di sini,” kata Stephane Ravier berasal dari National Front.
Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille jadi bukti upaya asimilasi Muslim ke di dalam masyarakat di Marseille. “Kami butuh daerah untuk bersua dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya.”
Oleh dikarenakan itu, Rahal terlalu mensyukuri bakal ada sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan di dalam bahasa Prancis untuk melukiskan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak serupa sekali.

MASJID JAMI’ MILIK MUSLIM NEW YORK, AS.
Islam Cultural Center of New York. (Pusat Kebudayaan Islam di New York adalah pusat budaya masjid dan Islam di kota kecil berasal dari …)

Sebuah grup Muslim telah belanja sebuah bekas gereja katolik ‘Queen of Peace’ tersebut biara dan sekolahnya, di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan merencanakan untuk mengfungsikan kompleks bekas gereja tersebut jadi pusat komunitas Muslim dan masjid.

Gereja tersebut bakal dirubah jadi masjid dan dinamakan masjid Jami’, yang bermakna daerah untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang jadi pimpinan grup orang tua Islam, dan juga yang mendanai pembelian masjid tersebut.

Yang jadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh lokasi barat kota New York, di awalnya umat Islam disana telah punya sembilan masjid dan masjid kesepuluh bakal dibangun di jalan transit daerah Amherst.

Masjid Jami’ nantinya bakal difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman dan juga tawarkan beraneka program kesibukan untuk pemuda.

“Kami mendambakan membangun masjid yang besar, namun kami seluruh mendambakan masjid yang kami bangun bakal banyak berfungsi bagi masyarakat,” kata Dr Hatim Hamad yang termasuk seorang asisten profesor klinik pada kampus Buffalo fakultas kedokteran gigi.

“Di kawasan Buffalo, terlalu belum ada pusat komunitas untuk anak muda,”tambah Hamad.”Dan bangunan ini terlalu besar dan juga lokasinya pas ditengah kawasan Buffalo.”

Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pihak keuskupan sampai saat ini masih coba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.

Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut terlalu besar.

Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja dan juga altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan berasal dari bangunan gereja tersebut, biarpun pun sebagian lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.

Masjid-Masjid Di Inggris Yang Dulunya Gereja

Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang terlalu berwibawa, yang lengkap bersama dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, khususnya yang memeluk Islam, apalagi tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di daerah ini, guna jalankan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 sampai 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum punya daerah permanen untuk jalankan shalat. Untuk jalankan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan daerah dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat daerah itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai daerah jalankan shalat Jumat.

Karena kuantitas jama’ah tambah bertambah, maka diperlukan daerah besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang mampu digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual dikarenakan terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling berasal dari komunitas Muslim lokal, selanjutnya bangunan itu jadi punya umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak cuma Masjid Zakariyya, sebagian masjid Inggris pun punya kisah yang hampir serupa bersama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal berasal dari gereja yang dijual, baik dikarenakan kehilangan pengikut, atau dikarenakan dikarenakan lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London

photo
Tempat ibadah ini termasuk dikenal bersama dengan sebutan masjid Brick Lane, dikarenakan posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum mampu menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, sampai sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, sampai lokasi tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini punya peristiwa yang terlalu unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari berasal dari Prancis untuk menjauhkan kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, dikarenakan jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, bersama dengan langkah mengajarkan Kristen bersama dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini termasuk gagal. Dan bangunan diambil alih oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis memadai lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, daerah ini diambil alih oleh komunitas Ortodok Independen dan share bersama dengan Federasi Sinagog yang tempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, dikarenakan mereka ganti ke lokasi utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut sampai tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, bersama dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjid Didsbury
Masjid ini terdapat di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan di awalnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, dikarenakan telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih jadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib sampai kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent
Terletak di Chichele Road, London NW2, bersama dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di sebagian anggota bangunan dan puncak menara.

Masjid New Peckham
Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley
WembleyMasjid ini terdapat di jantung kota Wembley, dekat bersama dengan Wembley Park Station. Daerah ini punya komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini di awalnya termasuk merupakan bekas gereja. Walau telah terpasang kubah di puncak menaranya, namun kekhasan bangunan gereja masih keluar jelas. Dengan demikian, siapa saja yang melihatnya, bakal sadar bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selain masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend termasuk telah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex bersama dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, dikarenakan jama’ah berkurang, sehingga kesibukan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini telah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja bakal dijadikan apartemen, namun gagasan itu tidak diterima oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang termasuk sedang butuh daerah untuk jalankan ibadah.

Saat itu kuantitas komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan daerah yang sesuai, dikarenakan mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilaksanakan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, cuma kudu tingkatkan daerah untuk berwudhu dan sebuah menara.

Baca Juga :