Mimpi Ekonomi Indonesia Berbasis Inovasi

Mimpi Ekonomi Indonesia Berbasis Inovasi

Mimpi Ekonomi Indonesia Berbasis Inovasi

Mimpi Ekonomi Indonesia Berbasis Inovasi

Dari sisi upaya penerapan inovasi, Indonesia masih menempati peringkat yang memprihatinkan di level Asia Pasifik, yakni di peringkat 85. Peringkat Indonesia dalam hal inovasi ini, hanya naik dua peringkat dibanding tahun lalu. Sementara negara tetangga semisal Thailand sudah berada di peringkat 44, atau sebut saja Vietnam yang dinilai sebagai negara yang baru bangkit industrinya, punya peringkat inovasi di level 45. Jangan tanya juga Malaysia, yang telah berada di peringkat 33, apalagi Singapura yang masuk dalam 10 besar negara inovatif di dunia, berdasarkan Global Innovation Index 2018.

Dikemukakan Ketua Dewan Riset Nasional, Bambang Setiadi, sejatinya inovasi adalah pendorong utama terjadinya pertumbuhan ekonomi. “Sehingga tak terbantahkan bahwa kita harus mengedepankan inovasi di tengah periode pelemahan ekonomi saat ini demi menciptakan daya dorong pertumbuhan perekonomian domestik,” kata Bambang di sela diskusi bertajuk “Inovasi dan Transformasi Digital” yang digelar iTech di Gedung BPPT, Jakarta (31/10).

Mengacu pada apa yang telah dilakukan oleh William Nordhaus dan Paul Romer sebagai pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2018, mereka telah mengintegrasikan perubahan iklim dan inovasi teknologi ke dalam analisis ekonomi. Keduanya telah memperluas ruang lingkup analisis ekonomi dengan mengkonstruksikan model-mode yang menjelaskan bagaimana ekonomi pasar berinteraksi dengan lingkungan dan ilmu pengetahuan, serta teknologi yang menghasilkan inovasi.

Bambang mengemukakan betapa inovasi selalu menjadi wacana yang kerap

dibicarakan, namun masih minim penerapannya di dalam negeri. Padahal, di negara maju yang berpendapatan US$ 17 ribu per kapita, inovasi telah menjadi dasar pelaksanaan kegiatan ekonomi, atau ekonomi berbasis inovasi.

Inovasi inilah yang nantinya akan meningkatkan produktifitas, sekaligus mengubah periode yang mengandalkan keunggulan komparatif menjadi periode ekonomi yang mengandalkan keunggulan kompetitif.

Pemerintah sendiri sudah cukup berpihak pada upaya penciptaan inovasi dengan meningkatkan dana riset di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi Rp 2,45 triliun pada tahun ini, dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 2,1 triliun. Sementara itu ada lima program khusus penugasan riset yakni bidang energi, pangan, kesehatan, kemaritiman, dan pariwisata.

Sayangnya, lanjut Bambang, lembaga riset di dalam neeri masih dinilai kurang

strategis sehingga perhatian yang diberikan pun masih relatif minim. Ia menyebut lembaga riset di Korea yang bertanggung jawab langsung kepada pimpinan negaranya. Begitupun di negeri Paman Sam yang menempatkan Dewan Sains dan Teknologi Nasional (Office of Science and Technology Policy) di bawah Presiden. Atau Singapura dan Malaysia yang menempatkan lembaga serupa di bawah Perdana Menteri.

“Sedangkan di Indonesia, Dewan Riset Nasional itu hanyalah eselon empat. Sementara itu atribut inovasi di dalam negeri juga tidak dilengkapi dengan undang-undang, strategi dan peta jalan, dana inovasi, maupun dewan inovasi,” ujar Bambang.

Bambang mengemukakan, semua negara di dunia tidak takut jika Indonesia memiliki

ribuan publikasi riset atau ribuan doktor. “Mereka hanya takut jika Indonesia punya komitmen menggunakan hasil riset sendiri dan inovasi sendiri,” tandasnya. Menurutnya, arti kata “menggunakan” di sini adalah harus membeli hasil riset sendiri, memproteksi, dan membiayainya, sekaligus menaikkan dana riset.

Dalam kesempatan sama, Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti Jumain Appe mengemukakan adanya sejumlah penghalang terjadinya inovasi. Di antaranya adalah resistensi dari kalangan profesional dan publik akibat sistem yang diwariskan, kurang layaknya sumber daya, kompleksitas masalah, hingga kendala teknis.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/