Chocodot, Oleh-oleh Coklat unik dari Garut

Chocodot, Oleh-oleh Coklat unik dari Garut

Chocodot, Oleh-oleh Coklat unik dari Garut

Chocodot, Oleh-oleh Coklat unik dari Garut

Chocodot atau coklat dodol kini menjadi salah satu oleh-oleh yang paling diburu wistawan yang berwisata ke Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kini Chocodot sudah menjadi produk nasional dan mentasbihkan diri sebagai Indonesian Chocolate.

Jabarprov.go.id pun berkesempatan untuk menyambangi rumah produksi coklat kekinian dari Swiss Van Java ini, melihat pabrik hingga museum coklatnya. Lokasinya mudah dijangkau, yakni di jalan utama Garut, tidak begitu jauh dari kawasan wisata Cipanas.

Denny, digital marketing Chocodot, mengatakan jika dalam sehari sekitar 160 hingga

260 kilogram batangan coklat dilelehkan dan diproduksi menjadi berbagai macam varian coklat unik dan kekinian.

“Saat ini sudah ada 300 jenis varian Chocodot yang bisa dinikmati,” ujarnya, Selasa (5/3/2019) kepada tim jabarprov.go.id.

Kini penjualan Chocodot tidak lagi hanya disekitar Garut saja, tetapi sudah di seluruh Indonesia. Bahkan sudah ada outlet serta pabrik pembuatan Chocodot di Bali dan Jogjakarta.

“Karena untuk mempermudah pemasaran kita, terutama di Bali dan Jogjakarta,” tegasnya.

Nah, agar memiliki kekhasan, di setiap daerah, kemasan Chocodot ini dibuat menyesuaikan karakteristik daerah, khususnya potensi wisata unggulannya.

Kini kemasan Chocodot tidak lagi menuliskan kata-kata kocak, unik dan terkesan

lebay agar disukai anak-anak muda, sebagai pasar utama penjualan, namun sudah mulai menuliskan potensi wisata daerah setempat.

“Misalnya di Garut, ada coklat dengan kemasan yang berisi keindahan dan tujuan wisata Garut,” tutur Deni.

Selain itu, untuk semakin mengenalkan sejarah coklat dodol khas Garut, pengelola Chocodot, Kiki Gumelar juga membuka rumah museum yang menjelaskan sejarah panjang perjalanan Chocodot.

Museum itu letaknya juga tidak terlalu jauh dari pabriknya. Di bagian dalam,

pengunjung akan mendapatkan informasi melalui film singkat, produk coklat dodol pertama “Di Jieun Coklat” hingga produk akhir yang kini memiliki 300 varian.

Nah, yang paling unik adalah adanya replika Candi Cangkuang yang terbuat dari coklat. Diperlukan sebanyak 1.700 kilogram coklat untuk membuat replika candi.

“Setiap bulan coklatnya dilapis kembali agar tetap utuh dan tetap bagus,” ujar salah satu guide museum kepada tim Jabarprov. Jo

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/peranan-tumbuhan-paku/