Lysosomal Storage Disorders

Lysosomal Storage Disorders

Lysosomal Storage Disorders

Lysosomal Storage Disorders

Lisosom adalah

Sebuah organel yang merupakan vesikel dan bermembran yang memiliki enzim yang berfungsi sebagai tempat pencernaan intraseluler. Enzim yang terdapat dalam lisosom adalah enzim hidrolitik dengan jumlah lebih dari 40 buah dan dapat berfungsi secara optimal pada kondisi asam. Cara lisosom untuk menjaga kondisi pH-nya adalah dengan menggunakan pompa proton yang secara aktif memompa ion H+ sehingga lumen yang berada di dalamnya tetap berada pada pH 5. Enzim-enzim hidrolitik dan membran dari lisosom dibuat di retikulum endoplasma kasar dan kemudian di transpor ke badan golgi untuk kemudian di proses hingga akhirnya keluar melalui bagian trans dari badan golgi dalam bentuk vesikel bernama lisosom.1

 

Lisosom yang keluar dari badan golgi, disebut

Sebagai lisosom primer, kemudian akan mencerna makromolekul, mikroorganisme yang difagositosis oleh sel ataupun masuk dengan cara endositosis, sisa-sisa seluler dan juga organel seperti mitokondria dan retikulum endoplasma kasar yang sudah tua. Material yang masuk tersebut kemudian akan bergabung dengan lisosom primer dan mengaktifkan enzim-enzim hidrolitik sehingga terbentuk lisosom sekunder. Lisosom sekunder itu kemudian akan memecah isi dari benda asing tersebut menjadi materi-materi kecil, mudah larut dan merupakan produk akhir yang akan dikirim oleh protein pengangkut menuju ke sitosol untuk kemudian dipakai oleh sel ataupun dikirim ke ruang ekstraseluler. Sisa dari produk akhir tersebut kemudian akan disekresikan keluar dari sel.3,4

Lysosomal Storage Disorders (LSD)

          Lysosomal Storage Disorders atau LSD merupakan penyakit pada lisosom dimana lisosom tidak dapat mensekresikan enzim yang spesifik sehingga terjadi penumpukan zat-zat sisa yang biasanya secara normal dibuang ataupun dipakai lagi oleh lisosom. LSD dapat menyebabkan kematian apabila organ-organ vital seperti misalnya jantung tidak dapat berfungsi lagi.4

 Lysosomal Storage Disorders dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti misalnya:

  1. Kekurangan aktivator enzim
  2. Kekurangan protein untuk mengaktivasi substrat seperti misalnya protein yang berhubungan dengan substrat untuk memfasilitasi hidrolisis dari substrat tersebut hilang atau kekurangan
  3. Kekurangan protein transpor yang dibutuhkan sebagai jalan keluar dari materi yang telah diproses di dalam lisosom.5

          Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lisosom terdiri dari lebih dari 40 macam enzim hidrolitik yang bertanggung jawab atas substrat-substrat tertentu. Ketika sebuah enzim dari kumpulan enzim-enzim tersebut tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, maka akan berakibat fatal pada lisosom itu sendiri dan dapat terjadi penumpukan dalam lisosom hingga kemudian fungsi seluler yang normal menjadi terganggu. Pengklasifikasian LSD didasarkan oleh tipe dari kecacatan enzimatik yang terjadi dan/atau produk substrat yang disimpan. Misalnya mucopolysaccharidoses atau biasa dikenal dengan penyakit MPS digolongkan berdasarkan defisiensi enzim yang menyebabkan penumpukan substrat glycosaminoglycan.6

   Lysosomal Storage Disorders (LSD) dikategorikan menjadi delapan kategori besar dan penyakit yang diakibatkannya. Kategorinya adalah sebagai berikut:

Kecacatan dalam metabolisme glycosaminoglycans (mucopolysaccharidoses).
Penyakitnya adalah MPS I, MPS II, MPS III, MPS IV, MPS VI, dan MPS VII.

Kecacatan dalam pendegradasian bagian glikan dari glikoprotein.
Penyakitnya adalah aspartylglucosaminuria, fucosidosis tipe I, fucosidosis tipe II,mannosidosis, sialidosis tipe I, dan sialidosis tipe II.

Kecacatan dalam degradasi glikogen.
Penyakitnya adalah penyakit pompe.

Kecacatan dalam degradasi komponen sphingolipid.
Contoh penyakitnya adalah defisiensi acid sphingomyelinase, penyakit fabry,penyakit farber, penyakit Gaucher tipe I, tipe II dan tipe III, GM1 gangliosidosistipe I, tipe II, dan tipe III, penyakit Tay-Sachs tipe I, tipe II dan tipe III, penyakit sandhoff, penyakit krabbé, metachromatic leukodystrophy tipe I, tipe II dan tipe III.

Kecacatan dalam degradasi polipeptida.
Penyakitnya adalah pycnodysostosis.

Kecacatan dalam degradasi transportasi kolesterol, ester dari kolesterol atau kompleks lipid lainnya.
Penyakitnya adalah neuronal ceroid lipofuscinosis tipe I, tipe II, tipe III dan tipe IV.

Kekurangan banyak enzim lisosom.
Penyakitnya adalah galactosialidosis, mucolipidosis II dan mucolipidosis III.

Kecacatan dalam transpor dan lalu lintas pengangkutan.
Penyakitnya adalah cystinosis, mucolipidosis IV, infantile sialic acid storage disease (ISSD) dan penyakit salla.6

Sangatlah sulit untuk melihat gejala-gejala yang muncul dari orang yang terkena penyakit LSD meskipun patogenesis dari penyakit tersebut hampir sama. Akan tetapi, manifestasi klinis dari LSD ini selalu progresif. Adapun gejala-gejala yang dapat dianggap sebagai bendera merah (red flag) dari penyakit LSD ini adalah:

Fitur wajah yang kasar (terkadang dengan macroglossia atau lidah yang besar).
Kornea yang berawan atau kelainan okular.
Angiokeratoma.
Umbilical/inguinal hernias.
Berperawakan pendek.
Keterlambatan dalam perkembangan.
Cacat pada sendi atau tulang.
Organomegaly (khususnya pada hati dan limpa).
Otot yang lemah atau kurangnya kontrol pada otot (kejang-kejang).
Kegagalan neurologis atau penurunan neurologis dari perkembangan yang diperoleh.7,8
Patofisiologi dari terjadinya gejala-gejala di atas masih tidak sepenuhnya diketahui dan berbeda-beda dari satu jenis LSD ke jenis LSD lainnya oleh karena enzim yang dipakai juga berbeda-beda. Akan tetapi, umumnya akumulasi dari substrat-substrat yang tidak dapat didegradasi itu akan mengakibatkan disfungsi seluler dan kemudian kematian dari sel. Selain itu, pola dari degenerasi neuronal dari LSD adalah spesifik untuk sel-sel tertentu dimana akumulasi dari substrat tertentu berhubungan dengan pengasingan dari komponen molekul penting lainnya dan menyebabkan defisiensi dari sel yang diasingkan tersebut.6,9

Perawatan terhadap penderita LSD berbeda-beda tergantung dari jenis penyakitnya. Akan tetapi, banyak jenis LSD yang tidak memiliki terapi spesifik dan hanya dapat dilakukan perawatan paliatif seperti dialisis. Perawatan spesifik untuk LSD dapat dilakukan dengan cara:

Transplantasi hematopoietic stem cell secara intravena supaya pasien LSD dapat memproduksi enzim seperti layaknya sel yang sehat. Penggunaan transplantasi ini banyak digunakan untuk penyakit jenis MPS I dan telah terbukti dapat berhasil khususnya apabila dilakukan pada saat tahap awal progresivitas dari penyakit ini seperti misalnya pada bayi yang masih memiliki sistem imun yang masih rendah sehingga risiko penolakan dari transplantasi ini lebih rendah.
Terapi penggantian enzim, dilakukan dengan cara menyuntikkan enzim secara intravena sehingga kekurangan enzim pada tubuh penderita dapat tergantikan.
Inhibisi substrat, fungsinya adalah supaya laju produksi substrat dapat diturunkan oleh terapi obat.

Selain perawatan secara spesifik, perawatan tambahan kepada para penderita LSD yang memiliki gejala neurologis sehingga pengobatan spesifik yang diberikan tidak dapat melewati blood-brain barrier sehingga mengalami kesulitann dalam memengaruhi sel target sehingga diciptakanlah pengobatan alternatif lainnya seperti adanya obat-obatan dengan molekul yang kecil yang dapat dimakan secara oral dan dapat melewati blood-brain barrier sehingga dapat menjadi “chaperones” atau pendamping untuk terapi peningkatan enzim dan terapi inhibisi sintesis dari substrat. Terapi gen juga dapat dilakukan kepada penderita LSD yang memiliki gejala neurologis sehingga gen yang mengalami mutasi dapat menjadi normal kembali dengan melakukan kopi gen yang normal meskipun kejelasan klinis dari terapi jenis ini masih dilakukan pada hewan coba dan diperlukan penelitian yang lebih lanjut.

Sumber : https://portal.iro.unsoed.ac.id/manajemen/pengertian-dan-contoh-teks-ulasan/