Lamun Berperan Sebagai Blue Carbon – Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga yang sudah memiliki akar, btg, daun sejati, serta telah sepenuhnya beradaptasi untuk hidup terendam di pada laut. Lamun bisa tumbuh menciptakan kawasan yg lebat yg luasnya dapat mencapai ribuan hektar & dikenal sebagai padang lamun. Di global terdapat 60 spesies lamun, 12 diantaranya bisa ditemukan di perairan Indonesia. Padang lamun adalah ekosistem bahari yang memiliki aneka macam peranan & fungsi yg penting.

Padang lamun berfungsi sebagai tempat asuhan (nursery ground), loka mencari makan (feeding ground), & tempat memijah (spawning ground). Berbagai biota laut hayati di padang lamun, baik yg hayati menetap atau hanya sementara. Padang lamun juga mempunyai fungsi fisik yaitu memperlambat gerakan air yg disebabkan oleh arus dan gelombang, menangkap sedimen dan melindungi pantai dari erosi. Selain fungsi tersebut, padang lamun sebagai tempat terjadinya siklus nutrien & menjadi penyerap karbon di lautan (carbon sink) atau dikenal menggunakan kata blue carbon.

Pertumbuhan sektor industri dan ekonomi pada aneka macam negara yang nisbi cepat mengakibatkan peningkatan emisi gas tempat tinggal kaca misalnya karbondioksida (CO2) dan CH4 pada atmosfer. Akibatnya peningkatan tersebut berkontribusi pada perubahan iklim dan berdampak pada perubahan pola cuaca, produksi kuliner, dan kehidupan insan. Berbagai kegiatan atropogenik berkonstribusi akbar terhadap gas tempat tinggal kaca yang ada di atmosfer, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas penggunaan lahan utamanya lahan hutan.

Fungsi hutan darat menjadi penyimpan emisi gas menurut efek rumah kaca sudah banyak diketahui (green carbon). Kini diketahui bahwa karbon pula disimpan dalam bentuk biomasa & sedimen dalam ekosistem vegetasi pesisir seperti dalam rawa asin (salt marshes), mangrove, & lamun. Biomasa vegetasi pesisir hanya kurang lebih 0,05% dibandingkan biomasa tanaman di daratan, tetapi sanggup menyimpan karbon menggunakan jumlah yang sebanding setiap tahunnya. Peran vegetasi pesisir termasuk lamun dalam menyimpan karbon dikenal menggunakan kata blue carbon. Diperkirakan blue carbon bisa menyerap lebih kurang 55% karbon yg berada pada atmosfer & dipakai buat proses fotosintesis yang kemudian disimpan menjadi biomasa.

Selain menyimpan karbon di biomasa, lamun juga berpotensi menyimpan biomasa yg luruh (serasah) dan terdekomposisi pada dalam sedimen. Berbeda halnya dengan simpanan karbon sang vegetasi daratan (hutan) yg tersimpan pada kurun waktu puluhan tahun, simpanan karbon sang lamun dalam bentuk sedimen diperkirakan bisa tersimpan dan terkubur hingga ribuan tahun. Ekosistem lamun bisa menyerap karbon sebesar 27,4-44TgC/tahun atau kurang lebih 0,56-1,82 ton C/ha/tahun. Indonesia sendiri mempunyai luas padang lamun lebih kurang ± 30.000 km2 yang memungkinkan simpanan karbonnya mencapai 386,lima TgC.

Bumi sebenarnya telah dilengkapi dengan penyerap CO2 alami, yaitu atmosfer, daratan, & lautan. Namun seiring menggunakan penebangan hutan yang kian marak terjadi, kemampuan alami daratan (hutan) dalam menyerap CO2 pun mengalami penurunan. Kini perhatian mulai ditujukan ke lautan lantaran potensinya dalam mereduksi karbondioksida yang menjadi penyebab pemanasan global. Lautan berperan krusial dalam daur karbon global, nir hanya berperan menjadi penyerap karbon terbesar dalam jangka ketika yg panjang, lautan juga menyimpan & mendistribusi ulang sekitar 93% CO2 yg terdapat pada bumi. Oleh karena itu ekosistem lautan khususnya lamun perlu dijaga & dipelihara mengingat pentingnya fungsi ekosistem bahari khususnya lamun bagi kehidupan.

Sumber : faunadanflora.com