Pelaku dan Perilaku Positif untuk Pendidikan

Setiap tersedia masalah di dalam mengelola negeri ini, pemerintah dan masyarakat terkesan condong untuk mengkambing-hitamkan sistem (mekanisme, ketetapan dan undang-undang), supaya jadi kewajaran jika solusi pertama pun yang kerap berjalan adalah mempengaruhi sistem. Demikian juga fenomena bidang pendidikan, dikala kualitas pendidikan kami terus merosot dan tertinggal berasal dari Negara-negara lain, juga perihal yang wajar jika para pengambil kebijakan coba mengotak-atik sistem pendidikan, pembaharuan sistem, pembaharuan kurikulum dan sebagainya.

Kesempurnaan sistem barangkali tidak bakal kami temui – tiap-tiap sistem senantiasa punya kelebihan dan kekurangan. Bila kami mengulas sejarah-sejarah pendidikan di Negara-negara maju, seperti Jerman, Jepang, Singapura, kesuksesan mereka menata pendidikan adalah lebih besar oleh faktor tabiat positif berasal dari orang-orang yang jadi pelaku di dalam sistem itu. Hal ini mesti sekali rasanya kami coba menyontoh tidak hanyalah menduplikat sistemnya, tapi lebih kepada tabiat dan perlakuan pemerintah dan masyarakatnya pada pendidikan itu.

Memang sebagai bangsa telah penat rasanya setelah setengah abad lebih merdeka senantiasa berkutat pada penyempurnaan sistem – sejarah tunjukkan ada orde lama, orde baru, orde reformasi, apalagi tidak menutup barangkali lima atau sepuluh th. ke depan kami bakal merubahnya ulang jadi “orde reformasi baru”. Namun jadi bijak bangsa ini jika langsung berintrospeksi bahwa hingga hari ini bangsa Indonesia masih tertinggal di dalam bidang pendidikan. Sebagaimana laporan berasal dari Liga Global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson bahwa pendidikan Indonesia mendiami peringkat paling rendah di dunia (www.bbc.com/11/27/ 2012). Bahkan di dalam laporan selanjutnya juga disebutkan faktornya kualitas guru, supaya perlunya mencari cara untuk merekrut guru yang terbaik, juga status dan rasa hormat serta besaran gajinya.

Sikap dan Motivasi

Tidaklah berlebihan jika kami coba menengok ulang secara jernih cita-cita Ki Hajar Dewantara, papa pendidikan Indonesia yang mendudukkan arti pendidikan secara arif yaitu memanusiakan manusia – sesudah itu telah kami tafsir di dalam harapan bersama membangun manusia Indonesia sepenuhnya – slogan Tut Wuri Handayani secara filosofis idamkan mengedepan tabiat di dalam pendidikan secara humanis. Membenahi “pelaku dan perilakunya” berasal dari sistem pendidikan yang kami sempurnakan bakal jadi cara maju jika bisa diawali berasal dari cara pandang pola laku yang positif. ruangguru.co.id

Bila kami review sejarah bahwa dunia pun mengakui mayoritas anak-anak bangsa ini cerdas dan mumpuni, tiap-tiap th. kami bisa bangga lihat anak-anak bangsa ini menjuarai bermacam oliampiade sains di bermacam negara – tapi ironisnya jarang berasal dari mereka yang cerdas dan unggul itu bercita-cita jadi guru. Dokter, insinyur, pebisnis dan sebagainya adalah lebih mengundang selera mereka– lalu siapa yang jadi guru sepanjang ini? Apakah mereka-mereka yang tidak cukup cerdas? Tidak punya niat berlebihan jika dikatakan anak-anak bangsa ini melanjutkan kuliah di jurusan keguruan mayoritas sebab tidak di terima di jurusan-jurusan favorit – atau sebab tidak punya biaya untuk kuliah di jurusan-jurusan itu. Bagaimana bisa bangsa ini menggantung harapan untuk lihat pendidikan yang berkualitas, jika input tenaga pendidik adalah pelarian-pelarian berasal dari jurusan lain. Berpuluh-puluh th. pula bangsa ini lihat fakta di sedang masyarakat berapa banyak sarjana yang tidak di terima kerja dimana-mana, lalu mengambil akta mengajar untuk hanyalah jadi guru berasal dari pada menganggur. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya adalah sebab sikap dan motivasi pemerintah pada guru yang tidak penuh. Berapa puluh th. guru hanya dikebiri bersama slogan pahlawan tanpa sinyal jasa, pendapatan rendah, apalagi mesti kerja tambahan.

Barulah sepuluh th. setelah reformasi (2007/2008), guru terasa merasakan sedikit kesejateraaan – itu pun masih setengah hati pemerintah melayani guru bersama pola sertifikasi seperti saat ini yang tercermin berasal dari banyaknya masalah di dalam pembayaran dan persyaratan-persyaratan di dalam sertifikasi. Memang setelah diterbitkan UU No 14. Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pemerintah telah mengalokasikan dua puluh prosen APBN. Dana yang begitu besar, kecuali tidak dikelola oleh pelaku-pelaku yang baik, maka besar barangkali tidak bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk dunia pendidikan. Terbukti sepanjang ini berapa banyak masalah yang mencuat tiap-tiap tahunnya di dalam pemanfaatan dana pendidikan tersebut? Orientasi pemanfaatan dana lebih besar jadi proyek-proyek yang mudah bocor. Kita senantiasa meminta pemerintah punya sikap tegas dan motivasi yang tinggi untuk memposisikan profesi guru di dalam dunia pendidikan sebagai sebuah profesi yang bergengsi berasal dari segi pendapatan dan kesejahteraannya, setara bersama guru-guru di Negara maju, supaya diminati oleh siswa-siswa yang cerdas dan berprestasi.

Dukungan masyarakat

Dana yang besar juga tidak bakal berdampak besar, jika tabiat pemerintah dan masyarakat pada pendidikan tidak mendukung terwujudnya iklim pendidikan yang baik. Sekarang animo siswa-siswi terasa meningkat pada jurusan keguruan, haruslah dibarengi oleh seleksi yang ketat untuk mendapatkan input yang baik. Pendidikan di perguruan tinggi lebih-lebih jurusan keguruan hendaknya juga mendapatkan prioritas pembangunan dan peningkatan kualitas bersama dana yang besar itu, supaya outputnya nanti bisa melahirkan guru-guru yang handal dan memiliki kwalitas tinggi. Jangan hingga animo siswa terharap jurusan keguruan selanjutnya hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak perguruan tinggi bersama orientasi komersial untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa tersedia seleksi yang ketat dan peta kebutuhan guru yang wajar – bersama membuka kelas-kelas di jurusan itu sebanyak-banyaknya. Tentu harapan terbesar kami adalah semua elemen masyarakat mendukung terwujudnya guru-guru memiliki kwalitas yang dirintis terasa berasal dari rekrutmen di perguruan tinggi hingga jadi guru. Sehingga negeri tercinta ini bisa bangun berasal dari keterpurukan bersama guru-guru yang terlampau profesional dan bermoral tinggi di dalam edukatif anak-anak bangsa ini.

Tantangan ke depan

Begitu besar tantangan bangsa ini ke depan sejalan bersama kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi – jika anak-anak bangsa ini tidak punya keteguhan pondasi budaya bangsa dan moral agama, maka bangsa ini tidak hanya kalah di dalam persaiangan global, tapi siap untuk jadi mangsa. Sebagai bangsa sesungguhnya kami punya akar budaya yang kokoh serta falsafah bangsa ideal. Bangsa ini berketuhanan yang Maha Esa, beradab di dalam pertalian sesama manusia. Bangsa ini telah menanamkan budaya musyawarah dan bermufakat. Namun begitu kuatnya dampak sarana sosial dan mudahnya akses internet bakal jadi kontraproduktif – anak-anak di tempat tinggal di sekolah telah punya kebiasaan bersama smart phone, pill dan laptop dan murahnya pulsa – begitu satu kata terketik di laman google, youtube dan sebagainya – langsung mereka bakal di serang oleh begitu banyak pengaruh-pengaruh berasal dari tampilan website-website baik yang disengaja atau pun tidak dibuka, maka disitu tertampang pornografi, kekerasam, penyimpangan tabiat dan sebagainya – tiap-tiap saat siap menyerang anak-anak genereasi penerus bangsa ini. Gejala-gejala sosial telah begitu banyak untuk kami menyimak satu per satu – terasa berasal dari pelecehan seksual, pergaulan bebas, pembunuhan, penipuan, bunuh diri dan sebagainya – dan tidak hanya menimpa anak-anak saja, tapi nyaris semua lapisan masyarakat di negeri ini – siswa, guru, sopir, ibu tempat tinggal tangga, pekerja, anggota dewan, aparat keamanan, aparat hukum dan sebagainya – sebagai korban berasal dari derasnya dan mudahnya arus teknologi dan informasi. Semua itu tanggungjawab siapa? Tentu adalah tanggungjawab kami semua, dan mesti kami hiraukan besama dan kami tanggulangi bersama cocok porsi dan posisi kami tiap-tiap sebagai pewaris bangsa yang besar ini. Besar peran dan tanggungjawab guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk langsung memasang diri kami sebagai bangsa untuk langsung berdiri diatas budaya dan moral agama yang kami punya – sesudah itu berpacu untuk mengejar ketertinggalan kami di dalam usaha memanusiakan manusia Indonesia kini dan jaman depan.