Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja

Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja

Para pembuat kebijakan dan institusi pembangunan di negara berkembang boleh dibilang lambat di dalam menciptakan lapangan kerja. Padahal realitas yang terjadi waktu ini persaingan kerja yang semakit ketat dan sempitnya lapangan kerja di negeri ini rupanya tidak diikuti bersama dengan kebijakan pemerintah yang proporsional.Wajar jika berapa banyak di negeri ini orang berkerja tidak sesuai bersama dengan disiplin keilmuan dan keahliannya. Ironisnya, ini banyak terjadi di instansi atau instansi jajaran pemerintahan, yang padahal tutuntan kerja diharapan proporsional.

Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja

Kita ambil contoh, lahan pendidikan profesi guru (PPG) mampu diambil alih oleh sarjana lain tak sekedar sarjana pendidikan guru. Semua itu bersama dengan alasan sarjana pendidikan tidak perlu jadi guru dan seluruh sarjana berhak jadi guru. Misalnya lagi mahasiswa tehnik mampu kerja di Bank bagian teller, dan tetap banyak yang lain. Dilihat berasal dari segi keilmuan telah menyimpang berasal dari profesi yang tengah diembannya. Realitas ini memang telah banyak terjadi di bidang keilmuan-keilmuan lain. Pertanyaannya, di mana peran pemerintah di dalam mewujudkan profesionalisme keilmuan demi hasil kerja yang baik sesuai bidang dan keahliannya?.

Sebagai mahasiswa, realitas berikut sangatlah memprihatinkan sebab peran pemerintah seakan-akan menyerahkan seluruhnya pada pasar atau bursa kerja yang ada, supaya mau tidak mau lumrah jika overlapping profesi banyak terjadi dikancah bursa kerja di tanah air ini.

Overlapping profesi berasal dari keimuan yang berseberangan, yang paling berpengaruh adalah segi psikologi, sebab apa yang dilaksanakan tidak sesuai bersama dengan keilmuan yang digeluti sepanjang ini. Padahal mampu jadi lebih dari satu acara training, talkshow, seminar pengembangan kepribadian atau impuls telah diikuti dan buku-buku impuls telah terbaca oleh si pencari kerja lebih-lebih mereka menyakini bahwa keberhasilan itu perlu konsistensi dan konsistensi diri.

Namun, apa yang terjadi saat diri ini telah sungguh-sungguh menata jaman depan bersama dengan sejak dini mencari pengetahuan bersama dengan harapan profesi yang diperoleh mampu diperkuat bersama dengan keilmuan yang telah ditekuni lewat pendidikan formal mampu memperkaya diri di dalam menghadapi dinamika dan wacana di dalam dunia kerja yang telah digeluti ternyata menguap begitu saja, tambah banyak orang bekerja di luar bidang keilmuannya.Dengan kata lain kebijakan pemerintah tidak mengimbanginya bersama dengan konsisten. Akibatnya terjadi kesenjangan pendidikan di dalam lapangan kerja, dan jika telah begitu tidak menutup mungkin pengangguran di negeri ini akan konsisten meningkat. Peningkatan angka pengangguran telah mampu dipastikan angka kriminalitas akan meningkat pula. Kecuali kesadaran entrepreneurship atau berwirausaha ini banyak tumbuh di masyarakat kita.

Kesimpulan yang mampu kami ambil bahwa pendidikan dan lapangan kerja yang kami harapkan tidak selamanya linier atau berbanding lurus bersama dengan keilmuan yang kami miliki. Ironisnya lagi disempurnakan bersama dengan potret liberalisme dan komersialisme pendidikan yang tengah terjadi di negeri ini, jika ini konsisten dibiarkan, tidak menutup mungkin negeri ini akan mencetak banyak generasi-generasi pengejar pragmantisme dengan sebutan lain tindakan pengabaian proses dan pengutamaan jalan pintaslah yang akan lebih semarak.

Sudah saatnya pemerintah lebih bijak dan arif di dalam memandang realitas ini supaya peluang kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) di negeri ini tidak makin lama menjamur, supaya the right man and the right place mampu terjadi di negeri ini tidak sebatas teori dan slogan belaka.